Pages

Pages

M.IN'AMUL AUFA. Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Jumat, 02 Desember 2011

ARTIKEL
LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
KOOPERATIF DI SMP
Disajikan Untuk Memenuhi Tugas” Pengembangan kurikulum PAI”.
Dosen Pembimbing :
Drs. H.Abdul Manab

Disusun oleh:
M. Zetna fahmi (3211093086)
Marina Try (3211093080)
M Ghozi Mashar (3211093083)
SEMESTER : IV
PRODI : PAI
JURUSAN : Tarbiyah
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) TULUNGGAGUNG
2011
KATA PENGANTAR
Segala puji & syukur dipanjatkan kehadirat ALLAH SWT atas petunjuk dan kekuatan yang dianugerahkan kepada penulis, sehingga Artikel ini akhirnya terselesaikan juga. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kehambaan Rosulluloh SAW yang telah memberikan petunjuk bagi kebenaran iman,ilmu dan amal bagi umat manusia sehingga berbahagialah mereka yang sadar dan ikhlas mengikutinya.
Kami penulis sadar bahwa makalah ini amat sangat sederhana dalam arti kami masih dalam tahap belajar dalam arti masih jauh dikategorikan sebagai karya ilmiah.kami hanya mampu mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan makalah ini.semoga amal mereka diterima oleh ALLAH sebagai amal khasanah dan semoga ALLAH membalas jasa-jasa tersebut dengan kebaikan yang berlipat ganda.
Demikian,pastilah tiada gading yang tak retak,untuk itu penulis mohon kritik dan saran yang membangun yang nantinya dapat kami jadikan pedoman untuk menulis makalah yang akan dating.terima kasih.




Tulungagung 06 Juni 2011

Penyusun

PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut (Lungdren, 1994):
a. Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau
berenang bersama.”
b. Para siswa harus memiliki tanggungjawab terhadap siswa ataupeserta didik lain dalam kelompoknya, selain tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.
c. Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki
tujuan yang sama.
d. Para siswa membagi tugas dan berbagi tanggungjawab di antara
para anggota kelompok.
e. Para siswa diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut
berpengaruh terhadap evaluasi kelompok.
f. Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh
keterampilan bekerja sama selama belajar.
g. Setiap siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara
individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Sementara menurut Anita dalam Cooperative Learning (2007), model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok serta di dalamnya menekankan kerjasama. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya serta mengembangkan keterampilan sosial. Menurut banyak keluhan-keluhan guru tentang pembelajaran yang menggunakan diskusi kelompok yang sudah dilakukan, diantaranya:
a. pemborosan waktu;
b. siswa tidak dapat bekerjasama dengan teman secara efektif dalam kelompok.
c. siswa yang rajin dan pandai merasa pembagian tugas dan penilaiannya
tidak adil.
d. siswa yang kurang pandai dan kurang rajin akan merasa minder
bekerjasama dengan teman-temannya yang lebih mampu.
e. terjadi situasi kelas yang gaduh.
Telah disebutkan di atas bahwa tidak semua kerja dengan menggunakan diskusi kelompok bisa dianggap sebagai belajar dengan pembelajaran kooperatif. Oleh karena itu, guru perlu mengembangkan wawasan tentang pembelajaran kooperatif sehingga dapat meminimalkan keluhan-keluhan yang ada. Ada unsur-unsur dasar dimana suatu pembelajaran disebut pembelajaran kooperatif. Dalam proses pembelajaran kooperatif, siswa didorong untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru.
Prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif (Muslimin dkk, 2000) adalah sebagai berikut:
a. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
b. Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.
c. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
d. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dievaluasi.
e. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan
membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
f. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta untuk mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Sedangkan Ciri-ciri pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
a. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Jika mungkin, anggota kelompok berasal dari suku atau agama yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.
c. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing masing individu.
Menurut Savage (1996:222) dalam pembelajaran kooperatif diperlukan keputusan dari guru untuk mengambil langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menentukan topik yang akan digunakan dalam kerja kelompok.
b. Membuat keputusan tentang ukuran dan komposisi kelompok
c. Menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan.
d. Memantau kerja siswa dalam kelompok.
e. Memberikan saran penyelesaian masalah yang cocok
f. Evaluasi serta memberikan saran-saran
.
Dalam metode pembelajaran kooperatif siswa juga bisa belajar dari sesama teman. Guru lebih berperan sebagai fasilitator. Tentu saja, ruang kelas juga perlu ditata sedemikian rupa, sehingga menunjang pembelajaran kooperatif. Tentu saja, keputusan guru dalam penataan ruang kelas harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi ruang kelas dan sekolah. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan adalah :
a. Ukuran ruang kelas
b. Jumlah siswa
c. Tingkat kedewasaan siswa
d. Toleransi guru dan kelas sebelah terhadap kegaduhan dan lalu lalang siswa
e. Toleransi masing-masing siswa terhadap kegaduhan dan lalu lalang siswa
f. Pengalaman guru dalam melaksanakan metode pembelajaran gotong royong
g. Pengalaman siswa dalam melaksanakan pembelajaran gotong royong.
Seperti telah diungkapkan, tidak semua kerja kelompok bisa dianggap sama dengan model pembelajaran kooperatif. Pengelolaan kelas model pembelajaran kooperatif bertujuan untuk membina pembelajar dalam mengembangkan niat dan kiat bekerja sama dan berinteraksi dengan pembelajar lainnya. Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas model pembelajaran kooperatif yaitu pengelompokkan, semangat kooperatif, dan penetaan ruang kelas.
Menurut Thompson,etal. (1995), Di dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yangsaling membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 4 atau 6 orang siswa, dengan kemampuan yang heterogen.Maksud kelompok heterogen adalah terdiri dari campuran kemampuan siswa, jenis kelamin, dan suku. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya.
Pada pembelajaran kooperatif diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik di dalamkelompoknya, seperti menjadi pendengar yang baik, siswa diberilembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakanuntuk diajarkan. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompokadalah mencapai ketuntasan (Slavin, 1995).

B. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif.
Terdapat 6 (enam) langkah utama atau tahapan di dalam pembelajaran kooperatif, yaitu sebagai berikut:
Fase Tingkah Laku Guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar
Fase 2
Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
Fase 3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok kooperatif Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mere ka.
Fase 5
Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-amsing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase 6
Memberikan penghargaan Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok




C. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok tradisional yang menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilankelompoknya (Slavin, 1994).
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak- tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, et al. (2000), yaitu:

a.Hasil belajar akademik
Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuansosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademispenting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini ungguldalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Parapengembang model ini telah menunjukkan bahwa model strukturpenghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa padabelajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan denganhasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungandengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberikeuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompokatas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
b.Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaansecara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras,budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya.Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagailatar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantungpada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaankooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.
c.Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah, mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi.Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebabsaat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.

D. Elemen-Elemen Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran yang dilaksanakan secara berkelompok belumtentu mencerminkan pembelajaran kooperatif. Secara teknis memangtampak proses belajar bersama, namun terkadang hanya merupakanbelajar yang dilakukan secara bersama dalam waktu yang sama,namun tidak mencerminkan kerjasama antar anggota kelompok. Untukitu agar benar-benar mencerminkan pembelajaran kooperatif, makaperlu diperhatikan elemen-elemen pembelajaran kooperatif sebagaiberikut (Jonson and Smith,1991; Anita Lie, 2004):
a. Saling ketergantungan Positif
Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiapanggotanya. Wartawan mencari dan menulis berita, redaksi mengedit,dan tukang ketik mengetik tulisan tersebut. Rantai kerja sama iniberlanjut terus sampai dengan mereka yang di bagian percetakan danloper surat kabar. Semua orang ini bekerja demi tercapainya satutujuan yang sama, yaitu terbitnya sebuah surat kabar dan sampainyasurat kabar tersebut di tangan pembaca.
Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlumenyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompokharus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapaitujuan mereka. Dalam metodeJ igsaw, Aronson menyarankan jumlahanggota kelompok dibatasi sampai dengan empat orang saja dankeempat anggota ini ditugaskan membaca bagian yang berlainan.Keempat anggota ini lalu berkumpul don bertukar informasi.
Selanjutnya, pengajar akan mengevaluasi mereka mengenai seluruhbagian. Dengan cara ini, mau tidak mau setiap anggota merasabertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya agar yang lain bisaberhasil.
Penilaian juga dilakukan dengan cara yang unik. Setiap siswamendapat nilainya sendiri dan nilai kelompok. Nilai kelompok dibentukdari "sumbangan" setiap anggota. Untuk menjaga keadilan, setiapanggota menyumbangkan poin di atas nilai rata-rata mereka. Misalnya,nilai rata-rata si A adalah 65 don kali ini dia mendapat 72, dia akanmenyumbangkan 7 poin untuk nilai kelompok mereka. Dengandemikian, setiap siswa akan bisa mempunyai kesempatan untukmemberikan sumbangan nilai kelompok. Selain itu beberapa siswayang kurang mampu tidak akan merasa minder terhadap rekan-rekanmereka karena mereka juga memberikan sumbangan.

b. Tanggung jawab perseorangan
Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur yang pertama.Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur modelpembelajaran Cooperative Learning, setiap siswa akan merasabertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilanmetode kerja kelompok adalah persiapan guru dalam penyusunantugasnya.
Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran Cooperative Learning membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakantanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan. Dalam teknik J igsaw yang dikembangkan Aronsonmisalnya, bahan bacaan dibagi menjadi empat bagian dan masing-masing siswa mendapat dan membaca satu bagian. Dengan carademikian, siswa yang tidak melaksanakan tugasnya akan diketahui
dengan jelas clan mudah. Rekan-rekan dalam satu kelompok akan menuntutnya untuk melaksanakan tugas agar tidak menghambat yang lainnya.

c. Tatap Muka
Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemumuka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan parapembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semuaanggota. Hasil pemikiran beberapa kepala akan lebih kaya daripadahasil pemikiran dari satu kepala saja. Lebih jauh lagi, hasil kerja samaini jauh lebih besar daripada jumlah hasil masing-masing anggota.
Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, meman-faatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing. Setiapanggota kelompok mempunyai latar belakang pengalaman, keluarga,don sosial-ekonomi yang berbeda satu dengan yang lainnya.Perbedaan ini akan menjadi modal utama dalam proses salingmemperkaya antaranggota kelompok. Sinergi tidak didapatkan begitusaja dalam sekejap, tetapi merupakan proses kelompok yang cukupponjang. Para anggota kelompok perlu diberi kesempatan untuk salingmengenal dan menerima satu sama lain dalam kegiatan tatap mukadon interaksi pribadi.

d. Komunikasi antar anggota
Unsur ini juga menghendaki agar para pembelaiar dibekalidengan berbagai keterampilan berkomunikasi. Sebelum menugaskansiswa dalam kelompok, pengajar perlu mengajarkan cara-caraberkomunikasi. Tidak setiap siswa mempunyai keahlian mendengarkandon berbicara. Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung padakesediaon para anggotanya untuk saling mendengarkan donkemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka.
Ada kalanya pembelajar perlu diberi tahu secara eksplisitmengenai cara-cara berkomunikasi secara efektif seperti bagaimanacaranya menyanggah pendapat orang lain tanpa harus menyinggungperasaan orang tersebut. Masih banyak orang yang kurang sensitif dankurang bijaksana dalam menyatakan pendapat mereka. Tidak adasalahnya mengajar siswa beberapa ungkapan positif atau sanggahandalam ungkapan yang lebih halus. Sebagai contoh, ungkapan"Pendapat Anda itu agak berbeda dan unik. Tolong jelaskan lagi alasan Anda," akan lebih bijaksana daripada mengatakan, "Pendapat Ando ituaneh don tidak masuk akal." Contoh lain, tanggapan "Hm... menariksekali kamu bisa memberi jawaban itu. Tapi jawabanku agakberbeda...." akan lebih menghargai orang lain daripada vonis seperti, "Jawabanmu itu solah. Harusnya begini." Keterampilan berkomunikasidalam kelompok ini jugs merupakan proses panjang. Pembelajar tidakbisa diharapkan langsung menjadi komunikator yang handal dalamwaktu sekejap. Namun, proses ini merupakan proses yang sangatbermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalamanbelajar serta membina perkembangan mental emosional para siswa.

e. Evaluasi
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untukmengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agarselanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi initidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisadiadakan selang beberapa waktu setelah beberapa kali pembelaiarterlibat dalam kegiatan pembelajaran CooperativeLearning.

E.Pendekatan dalam Pembelajaran Kooperatif.
Walaupun prinsip dasar pembelajaran kooperatif tidak berubah,terdapat beberapa variasi dari model tersebut. Ada empat pendekatan pembelajaran kooperatif (Arends, 2001). Di sini akan diuraikan secara ringkas masing-masing pendekatan tersebut.

a. Student Teams Achievement Division (STAD)
STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya diUniversitas John Hopkin dan merupakan pendekatan pembelajarankooperatif yang paling sederhana. Guru yang menggunakan STAD, jugamengacu kepada belajar kelompok siswa, menyajikan informasiakademik baru kepada siswa setiap minggu menggunakan presentasiverbal atau teks. Siswa dalam suatu kelas tertentu dipecah menjadikelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap kelompok haruslahheterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagaisuku, memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Anggota timmenggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lainuntuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian salingmembantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran melaluitutorial, kuis, satu sama lain dan atau melakukan diskusi. Secaraindividual setiap minggu atau setiap dua minggu siswa diberi kuis. Kuisitu diskor, dan tiap individu diberi skor perkembangan. Skorperkembangan ini tidak berdasarkan pada skor mutlak siswa, tetapiberdasarkan pada seberapa jauh skor itu melampaui rata-rata skoryang lalu.
Setiap minggu pada suatu lembar penilaian singkat atau dengancara lain, diumumkan tim-tim dengan skor tertinggi, siswa yangmencapai skor perkembangan tinggi, atau siswa yang mencapai skorsempurna pada kuis-kuis itu. Kadang-kadang seluruh tim yangmencapai kriteria tertentu dicantumkan dalam lembar itu.

b. Investigasi Kelompok
Investigasi kelompok mungkin merupakan model pembelajarankooperatif yang paling kompleks dan paling sulit untuk diterapkan.Model ini dikembangkan pertama kali oleh Thelan. Berbeda dengan STAD dan JIGSAW, siswa terlibat dalam perencanaan baik topik yang dipelajari maupun bagaimana jalannya penyelidikan mereka.Pendekatan ini memerlukan norma dan struktur kelas yang lebih rumit dari pada pendekatan yang lebih terpusat pada guru.
Dalam penerapan investigasi kelompok ini guru membagi kelasmenjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 siswa yang heterogen. Dalam beberapa kasus, kelompok dapat dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban persahabatan atau minat yang samadalam topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki,melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih itu.Selanjutnya menyiapkan dan mempresentasikan laporannya kepadaseluruh kelas.

c. Pendekatan Struktural
Pendekatan ini dikembangkan oleh Spencer Kagen dan kawan-kawannya. Meskipun memiliki banyak kesamaan dengan pendekatanlain, namun pendekatan ini memberi penekanan pada penggunaan struktur tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksisiswa. Struktur tugas yang dikembangkan oleh Kagen ini dimaksudkan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional, seperti resitasi, dimana guru mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas dan siswamemberi jawaban setelah mengangkat tangan dan ditunjuk. Strukturyang dikembangkan oleh Kagen ini menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil dan lebih dicirikan oleh penghargaan kooperatif, daripada penghargaan individual.
Ada struktur yang dikembangkan untuk meningkatkan perolehanisi akademik, dan ada struktur yang dirancang untuk mengajarkan keterampilan sosial atau keterampilan kelompok. Dua macam strukturyang terkenal adalah think-pair-share dan numbered-head-together,yang dapat digunakan oleh guru untuk mengajarkan isi akademik atauuntuk mengecek pemahaman siswa terhadap isi tertentu. Sedangkanactive listening dan time token, merupakan dua contoh struktur yang dikembangkan untuk mengajarkan keterampilan sosial.



DAFTAR PUSTAKA
• Azwar, Saifuddin. 2005. Metode Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
• Depdiknas. 2006. Kurikulum SD/MI Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta : Depdiknas.
• Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning. Jakarta : Gramedia.
• Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
• Rofi’uddin, Ahmad, dkk. 1999. Pendidikan Bahasa Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta : Depdikbud.
• Rostiyah, N.K. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Wibowo, Teguh. 2004. Cinta Bahasa Kita 6. Jakarta : Ganeca Exact.
• http://www.google.co.id/search?hl=id&sa=X&ei=u5jjTYDDNYP5rQeG5fi4Bg&ved=0CBQQBSgA&q=langkah-langkah+pembelajaran+kooperatif+di+sma&spell=1&biw=10
• http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2009/03/langkah-langkah-model-pembelajaran.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

JANGAN LUPA KRITIK DAN SARANNYA YACH....

Loading...

Total Tayangan Laman

Mengenai Saya

Foto Saya
TULUNG AGUNG, jatim, Indonesia
buku tamu
 

Blogger news

Blogroll

About