Pages

Pages

M.IN'AMUL AUFA. Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Minggu, 23 Oktober 2011

FANA DAN BAQA'



                                




AL-FANA, AL-BAQA DAN ITTIHAD

MAKALAH


Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah  
“Akhlak Tasawuf”


Dosen Pembimbing :
Muhammad Aqin Adlan, M.Ei



 






                                    
          
      Disusun Oleh :

Marina Try Susanti
NIM. 3211093087

Jurusan        : Tarbiyah
Prodi/Kelas : PAI / C
Semester      : II (Dua)


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) TULUNGAGUNG

 
APRIL 2010

KATA PENGANTAR

Bismillahirohmanirrohim
Puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah “Akhlak Tasawuf” yang berjudul Al-Fana, Al-Baqa Dan Ittihad
Sholawat serta salam kita sanjungkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang telah membawa umatnya dari zaman jahiliyah menuju zaman Islamiyah seperti sekarang ini.
Rasa terima kasih kami sampaikan pula kepada :
1).  Bapak Prof. H. Mujammil Qomar, M.Ag, Selaku Ketua STAIN Tulungagung
2). Bapak Muhammad Aqin Adlan, M.Ei, Selaku Dosen Pembimbing yang  telah Memberikan pengarahan yang amat berarti bagi penyusunan makalah ini.
3). Semua rekan-rekan yang telah membantu menyelesaikan makalah ini

Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Dan semoga bermanfaat bagi pembaca umumnya dan penyusun pada khususnya. Amin


                                                                                Tulungagung, 21 April 2010   

                                                                                                Penyusun

                                                





 

   DAFTAR ISI

Halaman Sampul ……………………………………………………             i
Kata Pengantar ……………………………………………………               ii
Daftar Isi  …………………………………………………………..             iii

BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang …………………………………………            1
B. Rumusan Masalah ……………………………………               1
C. Tujuan Masalah ……………………………………….              2
D. Batasan Masalah ………………………………………             2

BAB II : PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Hubungan Al-Fana, Al-Baqa
    dan Al-Ittihad..............................................................………    3
B. Tingkatan-Tingkatan Fana dan Hikmahnya…………………    5
C. Fana, Baqa dan Ittihad dalam Pandangan Al-Qur’an..………  6
              
BAB III : PENUTUP
               A. Kesimpulan ……………………………………………             8
               B. Saran ………………………………………………….              8
               C. Harapan ……………………………………………….              9

DAFTAR RUJUKAN
              

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Tasawuf merupakan disiplin ilmu yang lebih banyak berbicara persoalan-persoalan batin, kondisi-kondisi rohani dan hal-hal lain yang bersifat esoteris. Pengalaman-pengalaman yang dibentuk melalui proses imprementasi ajaran sufi bersifat mistis dan hampir selalu mengarah kedalam, yang sangat pribadi dan sulit dikomunikasikan kepada orang lain.
Karena kecenderungan mereka dalam mengungkapkan dunianya yang lebih mengarah kepada hal-hal mistis, maka persan-pesan Al-Qur’an dan hadist oleh mereka tidak difahami dari sudut makna lahiriah tekstualnya, tetapi dari sisi tafsir batiniah dan diungkapkan dalam kata-kata kiasan dan pelambang seperti fana’, baqa’, dan Ittihad. Sehingga pada gilirannya mengalami benturan pemahaman yang tidak jarang melahirkan cash sosial dan politik dengan kelompok syar’I yang memang lebih banyak menekankan pemahaman keagamaan dari aspek bentuk makna lahiriah tekstual nash.
Pada bab ini kita akan mengkaji al-fana, al-baqa, dan Al-Ittihad dari segi pengertian dan hubungannya. Kemudian akan dilanjutkan dengan tingkatan-tingkatan Al-fana, serta Al-fana, Al-baqa, dan Al-Ittihad dalam pandangan Al-Qur’an.

B.  Rumusan Masalah
1.   Apa pengertian dan hubungan antara Al-Fana, Al-Baqa, dan Al-Ittihad ?
2.   Sebutkan tingkatan-tingkatan Al-Fana dan Hikmahnya !
3.   Bagaimana pandangan Al-Qur’an tentang Al-Fana, Al-Baqa dan Al-Ittihad ?



C.  Tujuan Masalah
1.   Untuk mengetahui pengertian dan hubungan antara Al-Fana, Al-Baqa, dan Al-Ittihad.
2.   Untuk mengetahui tingkatan-tingkatan Al-Fana dan Hikmah Al-Fana.
3.   Untuk mengetahui pandangan Al-Qur’an tentang Al-Fana, Al-Baqa dan Al-Ittihad.

D.  Batasan Masalah
Makalah ini dibuat hanya untuk mengkaji tentang Al-Fana, Al-baqa, dan Al-ittihad.

BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian dan Hubungan Al-Fana, Al-Baqa dan Al-Ittihad
Dari segi bahasa al-fana berarti hilangnya wujud sesuatu. Fana berbeda dengan al-fasad (rusak). Fana artinya tidak tampaknya sesuatu, sedangkan rusak adalah berubahnya sesuatu kepada sesuatu yang lain.[1]
Bagi sufi, fana mempunyai banyak pengertian, misalnya diartikan sebagai keadaan moral yang luhur, sebagai definisi yang mereka berikan, yaitu fananya sifat jiwa atau sirnanya sifat-sifat yang tercela.[2] Dikatakan pula fana mempunyai makna terbebas dari hal-hal yang duniawi atau diartikan dengan sirnanya manusia dari kehendak-Nya dan kekalan-kekalan kehendaknya dengan kehendak Allah SWT.
Sebagai akibat dari fana adalah baqa. Secara harfiah baqa berarti kekal, sedang menurut yang dimaksud para sufi, baqa adalah kekalnya sifat-sifat terpuji, dan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia.
Dalam pengalaman para sufi, fana selalu diiringi dengan baqa dimana keduanya ini merupakan kembar yang tidak dapat dipisahkan.
Untuk mencapai tahap fana seorang sufi harus melalui berbagai tahap yaitu sebagai berikut :
1.   Kefanaan dari diri sendiri dan sifat-sifatnya, dan kekalan dalam sifat-sifat yang Maha Benar.
2.   Kefanaan dari sifat-sifat yang Maha Benar karena melihat yang Maha Benar.
3.   Kefanaan dari penyaksian terhadap kefanaannya sendiri dalam mempergunakan terhadap wujud yang Maha Benar.
Dalam istilah tasawuf, fana dan baqa datang beriringan, sebagaimana dinyatakan oleh para ahli tasawuf :
“Apabila tampaklah nur kebaqaan, maka fanalah yang tiada, dan baqalah yang kekal”.[3]
“Tasawuf itu ialah mereka fana dari dirinya dan baqa dengan Tuhannya, karena kehadiran hati mereka bersama Allah”.[4]
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan fana lenyapnya sifat-sifat basyariah, akhlak yang tercela, kebodohan dan perbuatan maksiat dari diri manusia. Sedangkan baqa adalah kekalnya sifat-sifat ketuhanan, akhlak terpuji, ilmu pengetahuan dan kebersihan diri dari dosa dan maksiat untuk mencapai baqa ini perlu dilakukan usaha-usaha seperti bertaubat, berdzikir, beribadah, dan menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji.
Sebagian orang mengisyaratkan, bahwa fana itu adalah meninggalkan sifat-sifat tercela, sedangkan baqa itu melahirkan sifat-sifat terpuji. Dengan demikian, seseorang tidak akan kosong dari kedua sifat tersebut. Tidak mungkin jika hanya didapati adanya salah satu sifat dari kedua sifat tersebut karena orang yang kosong dari sifat-sifat tercela, maka tentu akan nampak sifat-sifat terpuji. Barang siapa yang dikalahkan oleh sifat-sifat tercela, maka sifat terpuji akan tertutup.[5]
Dalam membahas tentang fana perlu diingatkan tentang bahaya yang mungkin timbul yaitu persangkaan bahwa kefanaan adalah kefanaan kemanusiaan sehingga dia menyangka telah bersifatkan sifat-sifat ketuhanan. Padahal sifat kemanusiaan tidak dapat sirna dari manusia.
Tujuan fana dan baqa yaitu mencapai persatuan secara rohaniah dan batiniah dengan Tuhan, sehingga yang disadarinya hanya Tuhan dalam dirinya.
Adapun kedudukan fana’ dan baqa adalah merupakan hal, karena hal yang demikian tidak terjadi terus-menerus dan juga karena dilimpahkan oleh Tuhan. fana merupakan keadaan dimana seseorang hanya menyadari kehadiran Tuhan dalam dirinya, dan kelihatannya lebih merupakan alat, jembatan atau maqam menuju ittihad (penyatuan rohani dengan Tuhan).
Berbicara fana dan baqa ini erat hubungannya dengan al-iitihad, yakni penyatuan batin atau rohaniah dengan Tuhan, karena tujuan dari fana dan baqa itu sendiri adalah iitihad. Hal yang demikian sejalan dengan pendapat Mustafa Zahri yang mengatakan bahwa fana dan baqa tidak dapat dipisahkan dengan pembicaraan paham ittihad. Dalam ajaran ittihad sebagai salah satu metode tasawuf sebagai dikatakan oleh al baidawi, yang dilihat hanya satu wujud sungguhpun sebenarnya yang ada dua wujud yang berpisah dari yang lain. Karena yang dilihat dan yang dirasakan hanya satu wujud, maka dalam ittihad ini bisa terjadi pertukaran peranan antara yang mencintai (manusia) dengan yang dicintai (Tuhan) atau tegasnya antara sufi dan Tuhan.[6]
Dalam sejarah dakwah Abu Yazid al-bustami (w. 874 M) disebut-sebut sebagai sufi yang pertama kali memperkenalkan paham fana dan baqa ini. Nama beliau sangat istimewa dalam hati kaum sufi seluruhnya.

B.  Tingkatan-Tingkatan Fana dan Hikmahnya
Tingkat I. Fana Fi af-alillah
Fana pada tingkat pertama ini, seseorang telah mulai dalam situasi dimana akal pikiran mulai tidak berjalan lagi, melainkan terjadi sebagai “ilham” tiba-tiba Nur Ilahy terbit dalam hati sanubari muhadara atau kehadiran hati beserta Allah dalam situasi mana, gerak dan diam telah lenyap menjadi gerak dan diamnya Allah.
Tingkat II. Fana Fissifat
Fana pada tingkat II ini, seseorang mulai dalam situasi putusnya diri dari Alma Indrawi dan mulai lenyapnya segala sifat kebendaan, artinya dalam situasi menafikan diri dan meng-isbatkan sifat Allah, memfanakan sifat-sifat diri kedalam kebaqaan Allah yang mempunyai sifat sempurna.
Tingkat III. Fana Fil-Asma
Fana pada tingkat III ini, seseorang telah dalam situasi fananya segala sifat-sifat keisanannya. Lenyap dari Alam wujud yang gelap ini, masuk kedalam Alam ghaib atau yang penuh dengan Nur Cahaya.
Tingkat IV. Fana Fizzat
Fana pada tingkat IV ini, seorang telah beroleh perasaan bathin pada suatu keadaan yang tak berisi, tiada lagi kanan dan kiri, tiada lagi muka dan belakang, tiada lagi atas dan bawah, pada ruang yang tak terbatas tidak bertepi. Dia telah lenyap dari dirinya sama sekali, dalam keadaan mana hanya dalam kebaqaan Allah semata-mata. Dapat disimpulkan bahwa segala-galanya telah hancur lebur, kecuali wujud yang mutlak.[7]
Sebagai kesimpulan yang dapat diambil tentang pengertian “Fana” ilah membersihkan diri lahir batin, memfanakan segala penyerupaan-penyerupaan Allah dari segala sifat-sifat kekurangan dan kebaharuan.
Hikmah “fana” adalah :
  1. Pentauhidan Tuhan semurni-murninya dalam arti, tiada wujud yang mutlaq melahirkan Allah.
  2. Pengenalan Tuhan semurni-murninya, tidak sekedar dengan pengakuan adanya dan satunya saja dengan ucapan kalimah syahadat, tidak sekedar dalil atau pendapat dengan jalan akal pikiran saja, tetapi kita mengenal Tuhan dalam arti “Makrifah”.[8]

C.  Fana, Baqa dan Ittihad dalam Pandangan Al-Qur’an
Dalam fana dan baqa yang ditujukan untuk mencapai ittihad itu dipandang oleh sufi sebagai sejalan dengan kosep liqa al-rabbi menemui Tuhan. Fana dan baqa merupakan jalan menuju berjumpa dengan Tuhan. Hal ini sejalan dengan firman Allah yang mempunyai arti :
“Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada-Nya”. (QS. Al-Kafi, 18 : 110).[9]  
Paham ittihad ini juga dapat dipahami dari keadaan ketika Nabi Musa ingin melihat Allah. Musa berkata : “Ya Tuhan, bagaimana supaya aku sampai kepada-Mu?” Tuhan berfirman : Tinggallah dirimu (lenyapkanlah dirimu) guru kamu kemari (bersatu).
Ayat dan riwayat tersebut memberi petunjuk bahwa Allah SWT telah memberi peluang kepada manusia untuk bersatu dengan Tuhan secara rohaniah atau batiniah, yang caranya antara lain dengan beramal saleh, dan beribadat semata-mata karena Allah, menghilangkan sifat-sifat dan akhlak yang buruk, menghilangkan kesadaran sebagai manusia, meninggal dosa dan maksiat, dan kemudian menghias diri dengan sifat-sifat Allah, yang kesemuanya ini tercakup dalam konsep fana dan baqa. Adanya konsep fana dan baqa ini dapat dipahami dari isyarat yang terdapat dalam ayat yang artinya sebagai berikut :
“Semua yang ada di dunia ini akan binasa. Yang tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemudian”. (QS. Al-Rahman, 55 : 26-27).[10] 
BAB III
P E N U T U P

A.  Kesimpulan
Fana adalah lenyapnya sifat-sifat basyariah, akhlak yang tercela, kebodohan dan perbuatan maksiat dari diri manusia. Dan baqa adalah kekalnya sifat-sifat keTuhanan akhlak terpuji, ilmu pengetahuan dan kebersihan diri dari dosa dan maksiat.
Tujuan fana dan baqa yaitu mencapai persatuan secara rohaniah dan batiniah dengan Tuhan, sehingga yang disadarinya hanya Tuhan dalam dirinya.
Ada 4 tingkatan dalam fana :
1.   Fana Fi af-alillah
2.   Fana Fissifat
3.   Fana Fil-Asma
4.   Fana Fizzat
Dalam pandangan Al-Qur’an fana, baqa, dan Ittihad adalah Allah telah memberi peluang kepada manusia untuk bersatu dengan Tuhan secara rohaniah atau batiniah, yang caranya antara lain dengan beramal saleh, dan beribadat semata-mata karena Allah menghilangkan sifat-sifat dan akhlak yang buruk, menghilangkan kesadaran sebagai manusia, meninggalkan dosa dan maksiat, dan kemudian menghias diri dengan sifat-sifat Allah, yang kesemuanya ini mencakup dalam konsep fana dan baqa.

B.  Saran
Dalam pembuatan makalah ini, penulis menyadari kekurangan dalam pembuatannya, untuk itu kami mengharapkan bagi pembaca untuk memberikan masukan-masukan agar makalah ini menjadi lebih baik lagi.


C.  Harapan
Kami selaku pembuat makalah ini pada khususnya dan para pembaca pada umumnya mampu meningkatkan kualitas serta kuantitasnya dalam pembelajaran dan penambahan ilmu yang terkait dalam makalah ini. Amin…
DAFTAR PUSTAKA

-     Nata, Abuddin. 2006. Akhlak Tasawuf. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
-     Zahri, Mustafa. 1998. Kunci emahami Ilmu Tasawuf. Surabaya : PT. Bina Ilmu.
-     Anshori, Afif. 2004. Tasawuf Filsafat Syaikh Hamzah Fansuri. Yogyakarta : Gelombang Pasang.
-     Abdurrahman. 2001. Perkembangan Pemikiran Dalam Bidang Tasawuf. Jakarta : Pertja.
-     Taimiyah, Ibn. 2005. Gerak-Gerik Qalbu. Bandung : Pustaka Hidayah.






[1] Abuddin Nata. Akhlak Tasawuf. (Jakarta : PT. Grafindo Persada, 2006). hal. 231.
[2] Abdurrakhim. Perkembangan Pemikiran dalam Bintang Tasawuf. (Jakarta : Pertja, 2001). hal. 33.
[3] Abuddin Nata. Op.cit.hal. 232
[4] Ibid, hal. 233.
[5] Afif Anshori. Tasawuf Filsafat Syaikh Hamzah Fansuri. (Jakarta : Gelombang Pasang, 2004). hal. 167.
[6] Abuddin Nata. Op.cit.hal. 234-235.
[7] Mustafa Zahri. Kunci Memahami Ilmu Tasawuf. (Surabaya : PT. Bina Ilmu, 1998), hal. 242.
[8] Ibid, hal. 243.
[9] Abuddin Nata, op.cit. hal. 237.
[10] Ibid, hal. 238.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

JANGAN LUPA KRITIK DAN SARANNYA YACH....

Loading...

Total Tayangan Laman

Mengenai Saya

Foto Saya
TULUNG AGUNG, jatim, Indonesia
buku tamu
 

Blogger news

Blogroll

About